Selasa, 02 Februari 2016
"Me"
Bab 1 : Pindahan...
Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan karena aku harus pindah rumah, baru seminggu yang lalu aku perpisahan dengan teman SMP ku, sekarang aku pindah rumah karena ayahku pindah tempat kerjanya. Hari ini aku mengemasi barang-barangku, entah sampai kapan aku tak akan kembali lagi ke tempat ini, sedih rasanya harus jauh dengan teman-temanku, apalagi teman-teman smpku, baru satu minggu yang lalu kami mengadakan acara perpisahan dan kelulusan SMP, sekarang aku pun akan jauh dari kehidupan mereka.
“Teman-teman, maaf ya! Aku akan jarang sekali bertemu kalian, karena aku pindah rumah dan rumah ku yang baru letaknya sangat jauh dari sini, kapan-kapan aku akan main kesini lagi kok!” Sms ku kepada teman-teman terdekatku.
Setelah selesai berkemas, aku menaikkan barang-barang ku ke mobil.
“Selamat tinggal rumah lama ku, selamat jalan kenangan ku, sampai jumpa teman-teman ku!” Kata ku didalam hati.
Aku masuk ke dalam mobil dan aku langsung berangkat menuju rumah baru ku, dengan kehidupan baru, kawan baru dan pengalaman baru, aku berharap bisa mendapatkan yang terbaik ditempat yang baru.
Sepanjang perjalanan aku sangat sedih, namun lama-lama aku tertidur didalam mobil. Tiba-tiba aku dibangunkan oleh mamaku, ternyata aku sudah sampai dirumah baruku. Aku senang rumah baru ku lebih bagus dari yang dulu tetapi aku takut kalau aku sulit mendapatkan teman disini. Aku pun membawa barang-barang ku ke kamar ku sendiri, aku diberi kepercayaan untuk mentata kamar baru ku sendiri, baiklah semuanya akan aku tata sesuai kemauan ku. Namun, mama ku tetap membantu ku memberi saran kamar baru ku.
“Hmm...yang ini bagusnya ditaruh dimana ya, ma?” Tanya ku kepada mama ku. “Kalau menurut mama, yang itu bagusnya ditaruh disana.” Jawab mama ku. “Oh gitu ya ma, oke deh!” Balas ku. “Yaudah, mama mau ke kamar adik kamu dulu ya, nanti kalau kamu perlu saran mama lagi, kamu ke kamar Desma aja!” Suruh mama ku.”Sip deh, ma!” Balas ku.
Akhirnya selesai juga aku mendesain kamar ku sendiri, lelah juga ya rasanya. Setelah selesai beres-beres, aku tiduran diatas ranjang ku sambil memainkan handphone ku.
“Semuanya... . Ayo turun! Mama baru beli makanan nih, pasti kalian lapar kan?” Panggil mama ku.
Aku langsung mematikan handphone ku dan langsung turun ke bawah.
“Makanan apaan sih, ma?” Tanya kakak ku, Okta. “Martabak telor nih! Tadi mama abis ke ruko depan nyari makanan.” Jawab mama ku. “Yes...martabak.” Kata ku. “ Yah...kok martabak telor! Kenapa bukan martabak manis?” Kata adik ku, Tri. “Ini, tenang aja! Mama juga beli martabak manis kok!” Kata mama sambil menaruh plastik putih diatas meja makan. “Nah, gitu dong!” Kata Tri. “Yaudah, sana kalian makan, nanti selesai makan kalian mandi, sholat Maghrib dan istirahat sana!” Suruh ayah ku. “Iya.” Jawab ku, kakak ku dan adik-adik ku.
Kami pun makan bersama, walaupun seadanya. Sehabis makan aku mandi, sholat Maghrib dan aku langsung masuk kamar. Aku memikirkan tentang bagaimana keadaan sekolah baru aku, aku masuk ke sekolah jurusan akuntansi, memang susah masuk disana karena termasuk sekolah favorit yang banyak sekali ingin masuk ke sekolah itu. Awalnya aku tak ingin masuk sekolah itu, tetapi hanya sekolah itu yang jarak tempuhnya dekat dari rumah baru ku yang sekarang ini, jadinya mau tidak mau sih.
Aku telah menjalani tes masuk ke sekolah itu sebelum aku pindah ke sini, akhirnya aku bisa diterima disekolah itu setelah menjalani tes yang panjang dan rumit. Liburan tinggal lima hari lagi, sebentar lagi aku masuk sekolah, aku berpikir selama sisa libur sekolah ku, aku ngapain aja ya di tempat baru ini. Aku masih merasa sangat asing disini, walaupun aku tau disini itu komplek perumahan yang jalannya itu-itu saja, tetapi rasanya hampa jika aku tidak punya teman. Bagaimana caranya aku dapat memiliki teman baru disini? Aku itu kan orangnya tidak percaya diri dalam sebuah pergaulan. Besok aku ingin jalan-jalan naik sepeda keliling komplek, tetapi kalau sendirian sedih sekali rasanya, kapan ya aku bisa punya teman? Seandainya aku tidak pindah, pasti aku sedang liburan dengan teman-teman ku dirumah ku yang dulu.
“Ah, masa bodo! Cepat atau lambat, aku pasti akan mendapatkan teman baru dan tidak kesepian lagi dan merasa asing berada disini. Dari pada bete, internet-an aja lah!” Kata ku.
Aku membuka laptop ku, aku pasang modem dan tak lupa aku pasang headset juga. Pasti kalau aku sudah didepan laptop, aku akan terhipnotis didepan laptop tak berpindah sedikit pun dan jika aku dipanggil aku tak akan dengar, sekalipun aku mendengar, pasti ku hiraukan. Aku membuka account facebook dan twitter ku dan aku searching sedikit tentang artikel-artikel yang ingin aku ketahui.
Namun, sekitar satu setengah jam kemmudian aku sudah mulai merasa lelah dan ngantuk, aku langsung mematikan laptop ku dan membereskannya dimeja ku. Aku ke kamar mandi untuk cuci tangan dan kaki, gosok gigi dan mengambil wudhu untuk sholat Isya’.
“Hooaaamm...ngantuk berat nih!” Kata ku.
Aku pun sholat, lalu aku tidur.
***
Keesokkan paginya, aku ingin jalan-jalan naik sepeda.
“Mama...yang lainnya belum pada bangun ya?” Tanya ku ke mama. “Iya, memangnya kenapa?”Balas mama ku. “Mau ngajakin jalan-jalan naik sepeda biar aku ada temannya.” Jawab ku. “Yaudah, kamu sendiri aja, tapi hati-hati! Jangan jauh-jauh! Kamu kan belum terlalu kenal daerah sini.” Kata mama ku memberi nasehat. “Sip deh, ma!” Balas ku.
Akhirnya, aku jalan-jalan keliling komplek sendirian, karena adik-adik dan kakak ku masih tidur. Aku menelusuri jalan yang kira-kira ku ketahui saja. Sesampai ku didekat sebuah taman, tiba-tiba “GUBRRAAAKKKK...!!!” Aku terjatuh dari sepeda ku karena ada yang menabrak ku dari samping.
“Aduhhh...!!!” Kata ku sambil menahan sakit karena terjatuh dari sepeda. “Maaf, maaf, gue gak sengaja, maaf banget!” Kata orang yang menabrak ku. “Aduh, kalau naik sepeda liat-liat dong, mas! Kan tangan saya jadi luka, mas!” Omel ku. “Maaf, maaf gue gak sengaja!” Katanya untuk meminta maaf sekali lagi. “Yaudah, gue maafin, tapi lain kali kalau jalan hati-hati dong, mas!” Balas ku.
Dia pun membantu aku untuk berdiri. Yah, lecet deh tangan ku, kenapa sih? Jalan kok gak lihat ada orang sebesar ini didepannya. Memang sih, lutut dia juga luka, tetapi itu wajar karena semuanya kesalahan dia, memang sih yang menabrak aku, orangnya lumayan cool.
Tiba-tiba, dua orang perempuan sebaya ku datang menghampiri kami.
“Wah, parah lo, Jie! Anak orang main lo tabrak aja, kasian tuh! Tangannya sampai lecet kayak gitu.” Kata salah satu perempuan itu didepan ku. “Tau, wooo... Parah banget, kasian tau! Minta maaf lo, Jie sama dia obatin tuh lukanya!” Kata perempuan yang satu lagi. “Gue udah minta maaf kali dan dia juga udah maafin gue, masalah luka dia gampang, nanti gue obatin dirumah gue. Eh, lo ke rumah gue ya! Nanti luka lo bisar gue yang obatin, rumah gue gak jauh dari sini kok!” Kata orang yang menabrak ku tadi. “Udah, gak perlu repot-repot, gue bisa obatin luka gue sendiri dirumah, lagian rumah gue juga gak jauh kok dari sini.” Balas ku. “Udah gak apa-apa, biar dia tanggung jawab, lagian orang main ditabrak aja” kata teman perempuannya. “Udah gak apa-apa, gue bukan orang jahat, rumah gue didekat sini kok!” Ajak dia sekali lagi. “Ya sudah.” Jawab ku.
Aku pun dan yang lainnya jalan menuju rumah laki-laki yang menabrak ku itu. Dijalan kami berbincang –bincang.
“Eh, kok gue gak pernah ngeliat lo ya? Lo masih baru disini?”Tanya laki-laki itu. “Iya, gue baru pindah kemaren.” Jawab ku. “Oh, pantes, gue gak pernah ngeliat lo.” Ucap salah satu teman perempuannya. “Iya.” Balas ku. “Rumah lo dimana?” Tanya teman perempuannya yang satu lagi. “Rumah gue juga dijalan ini yang nomor 7.” Jawab ku. “Oh, kalau begitu dekat rumah kita bertiga dong. Cuma beda nomor rumah aja. Kalau rumah gue nomor 8.” Kata salah satu teman perempuannya. “Kalau gue nomor 5.” Kata laki-laki itu. “Kalau gue nomor 3.”Kata teman perempuannya yang satu lagi.
Tak berapa lama kemudian, kami semua tiba dirumah laki-laki itu.
“Ini rumah gue, ayo masuk!” Ajak dia.
Kami semua pun masuk ke dalam rumahnya.
“Tunggu sebentar ya! Gue ngambil kotak obat dulu.” Katanya. “Iya.” Jawab ku. “Eh, Jie! Sekalian ambil makanan dan minuman buat kita ya!” Kata teman perempuannya. “Iye!” Jawabnya.
Tak lama kemudian, dia pun datang bersama seseorang yang membantunya membawakan makanan dan minuman, sementara dia membawa kotak obat. Dia duduk disamping ku dan mengobati luka ku.
“Sini tangan lo!” Katanya. “Nih, tapi pelan-pelan ya!” Ucap ku. “Iya, udah tenang aja!” Ucapnya menenangkan aku. “Oh, iya gue lupa, nama lo siapa?” Tanya teman salah satu teman perempuannya itu. “Nama gue Hanny. Kalau nama kalian siapa?” Balas ku. “Nama gue Marwa.” Jawabnya. “Nama gue Sachi.” jawabnya. “Kalau gue Li Jie, gue yang terganteng diantara yang lain.” Jawab laki-laki yang menabrak ku dengan penuh percaya diri. “Kalau gue Sachi. Salam kenal ya!” Jawab teman perempuannya yang satu lagi. “Iya.” Balas ku.
Oh, jadi nama mereka semua adalah Marwa, Li Jie dan Sachi. Alhamdulillah, setidaknya aku sudah mengenal teman sebaya yang rumahnya tidak jauh dari sini.
Li Jie pun mengobati luka ku, dia meneteskan obat merah ke luka ku. Marwa dan Sachi sibuk memakan dan minum yang telah disediakan sambil menonton TV.
“Woy, sisain dong! Masa gue yang punya makanannya, gue gak dapet sih!” Kata Li Jie. “Yaelah, Jie. Sekali-kali gak apa-apa kan?” Kata Sachi. “Enak aja lo, gak boleh!” Larang Li Jie. “Ah, udah deh! Lo berdua tuh ya, berisik banget! Diliatin tuh sama si Hanny.” Kata Marwa untuk merelai. “Tau lo, malu tau diliatin.” Kata Li Jie membenarkan perkataan Marwa. “Gak apa-apa dia kan mulai sekarang temen kita juga.” Kata Sachi.
Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka. Aku masih merasa kurang nyaman berada diantara mereka dan aku memutuskan untuk pulang saja.
“Maaf, semuanya! Gue pulang dulu ya, kapan-kapan gue main lagi.” Pamit ku. “Kenapa buru-buru?” Tanya Li Jie. “Gak apa-apa kok, mau pulang aja.” Jawab ku. “Ambil dulu nih! Jangan malu-malu!” Kata Li Jie sambil memegang sebuah makanan. “Udah gak apa-apa, gue udah kenyang kok!” Ucap ku. “Oh, yaudah deh!”Balas Li Jie.
Aku pun diantar keluar oleh mereka.
“Aku pulang dulu ya!” Pamit ku. “Iya, hati-hati ya!”Kata Li Jie. “Kapan-kapan main lagi ya!” Ucap Marwa. “Iya.” Balas ku.
Aku pun pulang ke rumah.
***
Keesokan harinya, sekitar jam 9 pagi, tiba-tiba mama ku masuk ke kamar.
“Hanny! Ada yang nyariin tuh didepan.” Kata mama ku. “Siapa, ma?” Tanya ku. “Gak tau tuh, mama gak kenal, dia bilang sih mau nyari kamu, semuanya ada tiga orang, dua orang perempuan dan satunya lagi laki-laki.” Jawab mama ku. “Hah? Seperti apa orangnya ma?” Tanya ku lagi. “Ya, kamu lihat aja sendiri sana!” Jawab mama ku.
“Duh, kira-kira siapa ya? Aku penasaran siapa yang datang ke rumah ku dan mencari aku. Apa mungkin teman-teman dari rumah ku yang dulu? Tetapi mana mungkin, mereka tak tau aku pindah kemana.” Kata ku menduga-duga dalam hati.
Aku langsung memakai kerudung ku dan keluar dari kamar ku, lalu menuju ke depan. Aku membuka pagar ku dan ternyata, mereka adalah Marwa, Sachi dan Li Jie.
“Hi, Hanny!” Sapa mereka semua. “Hi juga!” Balas ku. “Kok kalian tau rumah gue dan ada apa ya?” Tanya ku. “Tau dong! Kita gitu dan lagi pula rumah kita semua kan dalam satu jalan dan berderetan lagi.” Jelas Sachi. “Hah? Oh iya ya.” Ucap ku. “Kita semua mau main, boleh kan?” Kata Marwa. “Boleh lah boleh. Ayo masuk semuanya!” Ajak ku.
Mereka semua pun aku ajak masuk ke dalam rumah ku dan kami menuju ruang tengah.
“Ayo, duduk semuanya!” Ucap ku. “Iya.” Jawab mereka. “Tunggu dulu sebentar ya!” Ucap ku lagi. “Iya.” Jawab mereka.
Aku ke dapur untuk mengambilkan minum dan camilan untuk mereka. Tak lama kemudian aku pun kembali ke ruang tengah.
“Ada apa kalian kesini?” Tanya ku. “Kita mau main.” Jawab Marwa. “Oh, gue kira ada apaan.” Balas ku. “Kalian semua sekolah dimana?” Tanya ku. “Kita semua kebetulan sekolahnya sama, kita sekolah disekolah kejuruan akuntansi yang didekat sini.” Jawab Li Jie. “Hah! Sama kayak gue dong!” Ucap ku terkejut. “Serius? Wah, kok bisa kebetulan kayak gitu ya? Kamu baru kelas 10, 11 atau 12?” Tanya Li Jie. “Aku kelas 10, aku baru lulus SMP tahun ini.” Jawab ku. “Wah, asik! Kita bisa berangkat dan pulang bareng nih!” Kata Marwa. “Lo masuk akuntansi berapa?” Tanya Marwa. “Gue masuk kelas X-Akuntansi 2, kalo lo semua?” Tanya ku. “Sama juga X-Akuntansi 2” jawab Marwa. “Wah, sekelas nih kita!” Kata ku. “Marwa, lo tinggal disini udah berapa lama?” Tanya ku. “Aku juga belum lama kok tinggal disini, sehabis UN SMP aku pindah kesini.” Jelas Marwa. “Oh, kalau kalian Sachi, Li Jie?” Tanya ku. “Sachi, Li Jie!” Panggil ku. “Hei, kalian! Dipanggil tuh sama si Hanny!” Ucap Marwa. “Hah?” Ucap Sachi. “Apa?” Ucap Li Jie. “Kalian tinggal disini udah dari kapan?” Tanya ku. “Kalo gue udah dari lahir ada disini.” Balas Li Jie. “Gue juga udah lama tinggal disini, dari gue kecil.” Balas Sachi. “Lo berdua tuh ya! Kalo lagi nonton, dipanggilin gak nengok-nengok.” Kata Marwa. “Hehehe, iya maap!” Jawab Sachi. “Iya deh maaf, maaf!” Lanjut Li Jie. “Kalian berdua ada keturunan Chinesenya ya?” Tanya ku lagi. “Kalo gue gak ada, tapi si Li Jie ada.Gue adanya keturunan Japanese.” Jawab Sachi. “Tapi kok lebih ke Chinese ya?” Sambung ku. “Gak tau, mungkin udah cetakannya kayak gini.” Jawab Sachi. “Hahahaha, cetakan? Majalah kali dicetak.” Canda Marwa. “Kalo gue ada keturunan Eropa loh!” Ucap Marwa. “Heh! Siapa yang nanya lo?” Ucap Li Jie ketus. “Yaudah sih biasa aja, gue kan hanya sekedar ngasih tau.” Balas Marwa. “Lah? Orang kagak ada yang mau tau.” Balas Li Jie. “Itu mah, lo. Siapa tau yang lainnya mau tau? Iya gak?” Balas Marwa. “Gak tuh, Mon, gue juga gak mau tau.” Jawab Sachi sambil senyum-senyum. “Ah, lo mah pada begitu.”Balas Marwa. “Yaudah lah, gak perlu dipanjang lebarin, ntar jadi luas loh!” Ucap ku. “Hah? Maksudnya?” Tanya Marwa. “Kan kalo panjang dikali lebar sama dengan rumus mencari luas, kalo masalah dipanjang lebarin, nanti masalahnya jadi luas deh!” Canda ku. “Hahaha, ada-ada aja lo, Hanny!” Ucap Marwa sambil tertawa. “ Aneh-aneh aja lo! Hahaha...” Ucap Sachi sambil tertawa. “Hahaha, dia ngelawak.” Ucap Li Jie. “Eh, hari Senin besok pas pertama masuk sekolah kita berangkat bareng yuk!” Ajak Li Jie. “Boleh!”Kata Marwa. “Ayo, gue mah ikut-ikut aja!” Jawab Sachi. “Ayo!” Jawab ku.
Kami pun mengobrol satu sama lain, tiba-tiba mama ku menghampiri ku dan memanggil ku. Aku berdiri dan menghampiri mama ku.
“Hanny! Mama mau pergi dulu ke rumah sakit, mau jenguk teman mama, kamu jaga rumah ya, nanti kalo makan siang kamu beli aja! Mama belum sempat masak.” Jelas mama ku. “Oke, ma!” Jawab ku. “Ini uangnya, sekalian kalo teman-teman kamu mau makan.” Lanjut mama. “Iya.” Jawab ku.
Kami pun menonton film , waktu pun berjalan cepat dan tak terasa, adzan sholat dzuhur sudah terdengar.
“Hei, kalian laper gak?”Tanya ku. “Laper lah!” Jawab Sachi. “Kalian mau makan apa?” Tanya ku. “Adanya apa?” Tanya Sachi. “Mama gue lagi pergi dan gak masak.” Jawab ku. “Yaudah kita cari makanan di ruko depan aja yuk!” Lanjut ku. “Ayo! Tapi gak apa-apa nih?” Tanya Sachi. “Iya, gak apa-apa, tapi aku sholat dzuhur dulu ya! Kalian tunggu aja dulu!” Ucap ku. “Oke deh!” Jawab Sachi. “Eh, gue sekalian numpang sholat juga dong!” Kata Marwa. “Oh, yaudah ayo!” Balas ku.
Aku dan Marwa menuju ke musholah yang ada dirumah ku, kami pun mengambil wudhu, lalu sholat. Setelah selesai sholat aku bertanya kepada Marwa.
“Oh, gue pikir lo itu orang kristen, soalnya muka lo kayak orang barat.” Kata ku. “Enak aja! Aku juga Islam tau!” Jawabnya. “Kalo yang lain, agamanya kristen ya?” Tanya ku. “Kalo Li Jie memang kristen, tapi kalo Sachi budha.” Jelas Marwa. “Oh, gitu ya! Yaudah yuk kita ke bawah yuk sekarang, kita ke ruko depan cari makan!” Ajak ku.
Kami pun turun ke bawah untuk mengajak Li Jie dan Sachi. Aku tak percaya kalau aku punya teman yang beragama budha. Kami semua keluar dan membawa sepeda masing-masing, aku mengunci pintu dan pagar rumah ku.
Kami semua pun, naik sepeda ke ruko depan komplek. Setelah sampai, kami bingung ingin makan apa.
“Hei, kalian! Pada mau makan apa?” Tanya ku. “Apa ya? Bingung nih!” Jawab Sachi. “Terserah lo aja deh, Hanny! Kan lo yang traktir.” Kata Li Jie. “Kalo gue apa aja doyan, terserah mau makan apaan.” Kata Marwa. “Ah, gaya lo! Makan kursi doyan dong lo!” Canda Sachi. “Pantes aja, lo gemuk, makannya kursi. Hahaha...” Tambah Li Jie. “Lah? Apa banget sih kalian? Gue manusia! Gue gak makan kursi, emang kalian pikir gue lagi ngadain pertunjukkan debus apa?” Balas Marwa. “Eh, udah-udah! Ayo kalian mau apa? Giman kalo makan mie ayam yang disitu!” Ajak ku sambil menunjuk salah satu kedai mie ayam bakso. “Yaudah, boleh tuh!” Jawab Li Jie. “Wah, mau-mau, gue paling suka mie ayam!” Jawab Sachi. “Ayo gue juga mau!” Jawab Marwa.
Lalu, kami pun ke kedai mie ayam bakso itu dan memesan makanan disana. Kami masuk ke dalam kedai itu, lalu duduk dan aku menanyai pesanan mereka.
“Oke, gue mau mie ayam bakso dan minumannya es teh, kalian mau pesen apa? Biar gue pesenin.” Tanya ku. “Gue sama aja kayak lo deh!” Balas Marwa. “Hmm, gue bakso minumnya gw maunya jus jeruk ya!” Jawab Li Jie. “Kalo lo?” Tanya ku ke Sachi. “Sama aja deh kayak Li Jie.” Jawab Sachi. “Ciee...pesennya samaan!” Ucap Marwa. “Lah, emangnya kenapa?” Jawab Sachi. “Udah-udah, jadinya 2 mie ayam bakso, 2 es teh, 2 bakso dan 2 jus jeruk.” Kata ku untuk mengulang pesanan mereka. “Yups, benar!” Kata Sachi.
Aku pun memesan semua pesanan, setelah memesan aku kembali ke meja yang tadi. Tak lama kemudian, pesanan kami semua jadi dan diantar ke meja kami. Kami pun segera memakannya karena sudah lapar.
“Hanny, makasih ya! Udah ditraktir, padahal kan kita baru kenal tapi lo baik banget sama kita.” Kata Li Jie. “Iya, sama-sama. Biasa aja kali.” Jawab ku. “Iya nih Hanny, makasih banyak ya!” Tambah Sachi. “Iya, makasih banget!” Lanjut Marwa. “Iya, sama-sama!” Jawab ku. “Oh, iya! besok kan udah masuk sekolah, kita berangkat bareng yuk! kan kita satu sekolahan sekarang.” ucap Marwa. “Ayo! boleh tuh!” jawab ku. “Oke!” kata Li Jie. “Yaudah!” kata Sachi. “Yaudah, Hanny, gue minta nomer handphone lo dong!” Kata Sachi. “Nomer hp aku 0838xxx.” jawab ku. “Oke!” balas Sachi.
Setelah selesai makan, kami pun kembali pulang ke rumah masing-masing. Wah, senang sekali rasanya bisa punya teman baru secepat itu, rasanya seperti mimpi. Semoga kita semua bisa jadi sahabat ya!
Sesampai ku di rumah, mama ku belum juga pulang, aku takut sendirian di rumah, mama ku pergi ke rumah sakit, ayah ku sudah masuk kerja dan kakak ku sedang ke rumah temannya dari pagi.
Beberapa saat kemudian, sekitar 15 menit aku sampai di rumah, kakak ku datang juga. Akhirnya, aku tidak sendirian di rumah, walaupun kakak ku langsung ke kamar dan aku sendirian menonton TV di ruang tengah.
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar